Alih Istik Wahyuni - detikFinance
Jakarta - Pembatalan pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sangat tepat. BEI justru aneh jika memaksa membuka perdagangan ditengah anjloknya pasar regional, seperti aksi bunuh diri.
Demikian disampaikan pengamat pasar saham Edwin Sinaga ketika dihubungi detikFinance, Jumat (10/10/2008).
"Nggak apa-apa (batal buka), ini kan krisis manajemen. Memang harus melihat kondisi pasar. Justru aneh kalau buka, seperti bunuh diri sendiri," katanya.
Ia juga menjelaskan, pada saat kondisi pasar saham yang hancur-hancuran seperti ini, memang tidak ada batasan waktu yang tepat untuk penutupan bursa saham.
"Yang ada adalah batasan untuk membuat kebijakan yang bagus dan bagaimana kondisi pasar," katanya.
Di saat seperti ini, yang bisa dilakukan adalah penyelesaian out of market. Ia pun mendukung langkah pemerintah yang menyediakan dana sebesar Rp 4 triliun untuk pembelian kembali saham BUMN-BUMN.
Dengan begitu, maka memberikan jalan bagi pemain saham untuk menjual saham yang dimilikinya saat ini.
"Yang penting jangan mengurangi kenyamanan pasar untuk menjual. Harus ada jalan bagi yang ingin menjual," tegasnya.
Bursa Efek Indonesia membatalkan pembukaan transaksi saham sesi I pada Jumat (10/10/2008) karena pertimbangan pasar global yang tidak kondusif. Penutupan dilakukan selama sesi I.
Semula pemerintah dan BI merestui Bursa Efek Indonesia untuk kembali dibuka mulai perdagangan sesi I, Jumat (10/10/2008) setelah dua hari ditutup.
Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk menutup perdagangan saham pada sesi I mulai pukul 11.08 WIB karena hancurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 10,38%.
Ketika perdagangan saham ditutup pukul 11.08 JATS, Rabu (8/10/2008) IHSG merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Posisi IHSG ini merupakan terendah sejak September 2006.(lih/ir)
Kamis, 09 Oktober 2008
BEI Bunuh Diri Kalau Buka Perdagangan Saham
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 komentar:
Posting Komentar